Cerita Sex 2016 Mbak Linda Janda Kesepian
Cerita Sex 2016 Mbak Linda Janda Kesepian

Cerita Sex 2016 Mbak Linda Janda Kesepian

Posted on

Cerita Sex 2016 Mbak Linda Janda Kesepian – berikut adalah peristiwa nyata dan sebuah pengalaman yang tidak bisa melupakan semua hidup saya. Memang, nama-nama karakter dan tempat dalam cerita ini sengaja kusamarkan alam, tetapi urutan kejadian tidak hasil khayalan atau fiktif dari imajinasi saya. Cerita tentang hubungan perselingkuhan saya dengan wanita yang sudah menikah sekitar tahun 1995 lalu dan berlangsung selama 3,5 tahun.

Cerita Sex 2016 Mbak Linda Janda Kesepian Cerita Sex 2016 Mbak Linda Janda Kesepian Cerita Sex 2016 Mbak Linda Janda Kesepian Cewek Asia Hot Seksi dan Mulus 13
Cerita Sex 2016 Mbak Linda Janda Kesepian

cerita sex 2016 Mbak Linda Janda Kesepian – Ketika itu usia saya 25 tahun dan saya bekerja di sebuah perusahaan asing yang beroperasi di luar Jakarta selama 24 jam sehari, sehingga ada bagian-bagian tertentu dari kantor pusat yang bertugas dalam tiga shift untuk memantau operasi di lapangan dan saya adalah salah satu dari karyawannya.

Suatu hari saat bertugas malam, saya menerima telepon hilang hingga 3 kali dari seorang wanita. Akhirnya putus asa, mengangkat keinginan untuk bersenang-senang menggodanya dan mengajak kenalan yang ternyata ditanggapinya dengan antusias untuk tidak merasa kami berbicara di telepon selama 1,5 jam.

Wanita itu memperkenalkan namanya sebagai Lisna (aku menelepon Ibu Lis), berusia 34 tahun dan telah menikah dan memiliki tiga anak. Suaminya adalah seorang pejabat di instansi pemerintah, yang menikah 48 tahun Ms Lis ketika ia berusia 18 tahun dan baru lulus SMA. Anak pertamanya adalah 15 tahun wanita tua.

Sejak itu saya tidak pernah lagi merasa bosan dan kesepian ketika tugas malam karena Ms Lis sering disebut bahkan hanya untuk chatting saja. Menurut pengakuannya, Ms Lis sering pergi dengan perasaan kesepian karena suaminya berada di luar kota dan dia tahu suaminya punya wanita simpanan di luar.

Sebagai orang dewasa, pembicaraan kami sering menyerempet hal-hal yang sedikit miring. Jika sudah begitu, biasanya nada Ms Lis berubah menjadi bisikan berat sedikit sebagai orang bangun sementara aku menikmati kesendirian di ruang kantor yang dingin, ber-AC.

Tak terasa tiga bulan kita memiliki ria telepon tanpa pernah bertemu dan selama itu selalu dia yang menelepon saya ke kantor atau rumah karena saya tidak pernah diberi nomor telepon (katanya dia takut ketahuan suaminya).

Suatu sore Ms Lis disebut rumah saya dan membawa saya ke bioskop, awalnya saya ragu-ragu karena tidak siap untuk bertemu. Saya berpendapat bahwa saya masih lelah dari tugas malam habis, tapi Ms Lis masih memaksa dan meminta untuk bertemu di sore hari sehingga saya bisa beristirahat. Saya kemudian menyanggupinya karena tidak ingin mengecewakan dia.

14:30 setelah mandi, Ms Lis menelepon saya lagi dan kami janjian untuk bertemu di bioskop dengan tidak lupa untuk mengkarakterisasi masing. Sesampainya di bioskop aku telah membuat marah karena di sana saya bertemu dengan seorang wanita dengan ciri-ciri seperti yang dikatakan Ms Lis, wah jangan-jangan ia akan bekerja pada saya ya.

Setelah hampir satu jam menunggu, tiba-tiba saya merasa keran di punggung saya. Dan ketika aku berbalik, tampak Mbak Lis berdiri di belakang saya dengan senyum yang membuat saya tertegun.

“Bayu ya?” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Ya, Mbak Lis .. mm ..?” Aku balas agak tergagap sementara menyambut tangan. Ah, bagaimana halus dan tangan lembut.
“Maaf terlambat, karena macet sih ..” katanya kemudian.
“Tidak apa-apa sih Mbak, aku juga tidak terlalu lama menunggu,” kataku, berbohong sambil menatap matanya tak lepas. Kesalku rasa segera menghilang setelah melihat Ms Lis terlihat anggun.

Angka ms Lis biasa-biasa saja, tinggi 158 cm, berat sekitar 45 kg, kulit kuning halus dan bergelombang sebahu rambut hitam. Wajah ayu memancarkan kelembutan seorang ibu dan ketika ia berbicara sekali ramah dengan selalu disertai dengan senyum yang tidak pernah meninggalkan bibir mungilnya yang tipis. Dia tampak begitu anggun (dan seksi) sesuai dengan blus sutra cahaya celana lengan pendek ketat hijau dan hijau lumut kapas yang mengungkapkan bulu-bulu halus di tangannya dan tubuhnya montok. Saya merasa seperti kehilangan kata-kata untuk berbicara, sampai Ms Lis mulai lagi.
“Kami makan yuk pertama, Anda tidak akan makan. Kebetulan di dekat sini ada restoran ayam panggang lezat, Anda tahu”, ia bertanya, mengambil tanganku.

Kami makan dengan santai sambil berbicara dengan lelucon yang kadang membuat kita tertawa terbahak-bahak. Aku melihat Ibu Lis mampu berbicara lebih longgar suasana begitu kakupun berangsur-angsur hilang.

Setelah makan malam kami kembali ke teater setelah membeli tiket dan kami mengambil waktu untuk melihat gambar-gambar dari film di lobi bioskop sambil menahan tangan. Tapi kali ini Ms Lis ditekan melawan aku dengan merangkul lengan dan kadang-kadang dia bertindak lebih berani untuk merangkul pinggang saya, secara naluriah aku membalas dengan merangkul bahunya atau memeluk pinggulnya.

Menyentuh bagian depan tubuh Ms Lis masuk akal kedewasaan gembira, terutama ketika saya melihat bagian atas blus kancing yang dikenakannya sudah terbuka (aku tidak tahu kapan ia membuka). Tampak bagian dari sepasang bukit halus menyembul dari balik bra-nya membuat darah saya berdesir dan mata saya tampaknya tidak lepas dari dirinya.

Ketika pengumuman menandai dimulainya acara jam terdengar, kami juga memasuki bioskop untuk menemukan kursi sesuai dengan jumlah kursi yang dicetak pada tiket (saya sengaja memilih tempat duduk di baris belakang). Ibu Lis duduk di sebelah kananku sementara tangan kirinya menggenggam dan sesekali meremas tangan kananku.

Segera lampu teater padam dan film dimulai, kita menonton saat istirahat tanpa menghabiskan satu kata. Sekitar 10 menit berlalu, Ms Lis menyandarkan kepalanya di bahu saya dan tangan kanannya menarik tanganku ke wajahnya. Mengusap jari-jari saya ke pipinya, kemudian bibirnya ke telinganya sambil memberikan ciuman ringan pada masing-masing jari-jari saya. Ketika saya melihat wajahnya tertunduk mencium jari-jari saya, Ms Lis mendongak dan menatap kembali. Mata kami saling menatap dalam jarak yang sangat dekat, maka tangan kuberanikan mengangkat dagunya dan mencium bibirnya yang tipis. Ibu Lis diam, tidak menolak dan tidak menciumku, bibirnya masih terkatup. Aku penasaran dan semakin putus asa, mencium bibirnya lagi dengan sesekali mengulumnya.

Akhirnya Ms Lis bereaksi dengan baik, bibirnya terbuka sedikit dan ia menciumku, kami berciuman untuk waktu yang lama sampai kemudian Ms Lis menghentikannya saat ia tersentak nama saya serta meremas dan menarik kembali tangannya ke bibirnya. Ms Lis tapi kali ini bukan hanya mencium jari-jari saya, dia juga mulai memasukkan jari saya di dalam mulutnya dan mengisap disertai dengan menjilati-halus jilatan dan gigitan nakal.

“Mbak jadi jengkel, Bay,” bisiknya.
“Mbak yang membuat jengkel”, bisikku, mencium telinganya. Ibu Lis menggelinjang wajah lurus, membuat saya lebih bergairah mencium daerah sensitif di sekitar telinga dan leher.
“Aaahh Bayu ..” Ms Lis mendesah lagi.
“Kamu nakal ..”
“Tapi seperti itu ..?” Kataku sambil meraih wajahnya dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Kali ini Ibu Lis berciuman penuh gairah saat bermain lidahnya di mulutku, sehingga lidah kami berpagutan satu sama lain. Tangan ms Lis mulai meremas dada saya. Aku tidak ingin kehilangan, kuusapkan tangan kiriku pada daerah sensitif di telinga, leher dan terus turun ke dadanya dan kemudian menyusup ke bajunya.

“Hmm ..” terdengar Ms. Lis bergumam dalam kuluman bibirku.
“Ouuhh .. uuhh ..” desahnya sambil tangannya mencengkeram leher baju saya ketika saya sentuh meremas payudaranya dan puting dari balik BH.
“Masukkan tangannya, sayang ..” kata Ms Lis saat membuka satu kancing lebih pada blusnya. Kusingkap bra dan dada kurogoh kenyal, sementara tangan kanan Ms Lis mulai merayap ke dalam perut saya dan jatuh sampai ke selangkangan saya. Diremas-diperas batang kemaluanku sudah tegang dari celana luar dengan mengerang dan mendesah sementara bibir kami terus berciuman dan mengisap lidah. Ms Lis Kupilin puting dengan jari-jari saya, meremas dadanya. Ooh .. Saya pikir saya ingin mencium dada dan mengisap dan menjilati putingnya. Tangan ms Lis bahkan lebih bergairah menggosok dan meremas selangkangan saya.

Buka dong Bay ..” desah Ms Lis ketika mencoba untuk membuka ritsleting celana. Aku melepas pelukanku untuk membantu membuka sabuk kait, kemudian dengan cepat Ms Lis meletakkan tangannya di celana dan terus meremas batang kemaluanku celana masih tertutup. Tangan sesekali menggali lebih dalam untuk menekan pangkal paha biji. Uuhh .. kesenangan.

cerita sex 2016 Mbak Linda Janda Kesepian – Ibu Lis kemudian menyandarkan kepalanya di dadaku, disingkapnya celana saya turun sehingga batang kemaluanku sekarang benar-benar gratis dan atas seolah-olah untuk menunjukkan kesiapan. Ms Lis merasakan kehangatan tangan ketika mencengkeram batang kemaluanku, meremas dan mengusap ibu jarinya di kepala batang kemaluanku, membuat bantuan perasaan mendesis geli yang nikmat mengalir melalui tubuh saya.

“Hmm ..” Aku mendengar Ms Lis beberapa kali menggumam perhatian dan semacam batang pangkal paha yang berkedut di tangannya. Saya merasa ya kepala Lis secara perlahan bergerak turun mendekati batang kemaluanku, Ms Lis rupanya mampu menahan keinginannya untuk memenuhi tegak selangkangan batang undangan untuk menantangnya. “Jangan ya ..” bisikku sambil menahan gerakan kepala Ms Lis karena saya menyadari situasi di dalam bioskop tidak memungkinkan kita untuk menjadi lebih dari sekedar melakukan pekerjaan tangan. Ibu Lis kemudian menatapku.

“Bayu .. please ..” Ms Lis mendesah meminta persetujuan dengan mata berkaca-kaca sambil terus memijat kejantanannya.
“Jangan ya .. terguncang hanya ..” kataku, mengangkat kaki ke belakang kursi di depan saya yang kebetulan kosong untuk memfasilitasi eksploitasi Ms Lis mengklik batang pangkal paha. Ms Lis aku menggambar wajah dengan tangan kiri saya dan mencium bibirnya berpisah di depan saya sementara tangan kanan saya memeluk bahunya. Kami berciuman untuk waktu yang lama dengan masing-masing twist lidah di dalam mulut. Ms Lis merasa tangan lebih intens meremas dan berputar batang kemaluanku, sambil sesekali bergumam di mulutnya saat ia merasa tangan membelai pagutanku daerah sensitif di belakang telinga.

Tangan kiri saya sekarang sibuk membuka kancing blusnya dikenakan Ms Lis dan menyusup ke dalamnya, meremas dada kenyal dan bermain putingnya dengan jari saya. Ibu Lis mengubah posisinya dengan bersandar di dadaku dan memindahkan kendali batang pangkal paha ke tangan kirinya. Didekapkannya tangan di dadanya sehingga saya lebih leluasa meremas kedua payudaranya yang sekarang terbuka karena bra nya kusingkapkan dan memelintir puting telah mengeras.

“Aaahh .. oouuhh ..” Mbak Lis medesah dan kemudian aku melihat tangan kanannya bergerak turun menggosok selangkangannya dan tangan kirinya mencengkeram batang kemaluanku semakin keras saat ia mengusap kepala kedewasaan saya dengan ibu jarinya. Aku merasakan aliran darah di pangkal paha tumbuh dengan cepat dan deras, menyebabkan sensasi kenikmatan yang tak terbayangkan.
“Mbak tidak tahan, Bayu ..” desahnya, menarik satu tangan ke mulutnya dan kemudian menjilati dan mengisap jari-jari saya lapar.

Akhirnya sensasi puncak ketika datang juga dirasakan di selangkangan gemuruh kawah memuntahkan lava inginkan. Aku menarik tanganku dari dadanya dan kucengkeram tangan Ms Lis yang berputar batang kemaluanku. Merasa tidak sabar, saya bantu ya Lis mengocok batang kemaluanku lebih kencang. Dan akhirnya .. “Ooouuhh ..” Aku mendesah ketika aku merasa terjebak batang kemaluanku mengejang ludah kemudian memuntahkan cairan penyemprotan kesenangan berkali-kali membasahi tangan kita.

Mbak Ooouuhh .. begitu baik ..” kataku, melepaskan napas dalam-dalam ketika aku merasa puncak kenikmatan saya mereda, batang kemaluanku telah berhenti memuntahkan debit cairan dan dibiarkan hidup kemudian diratakan oleh Ms Lis dengan jari telunjuk di permukaan kepala batang kemaluanku.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Ms Lis sejenak beralih dari tangan saya untuk mengambil tisu dari tasnya. Lalu ia bersandar di lengan saya, dengan telaten batang pangkal paha dihapus dari kepala ke batang dan akar. Ah, saya merasa sangat dingin usapannya. Kemudian dilanjutkannya menyeka tangannya sendiri dan tangan terkena semprot sperma saya dengan lembaran jaringan lainnya.

Ibu Lis dan mencium bibirku lembut, aku merasa ada nafsu dalam ciuman yang begitu lembut. Tampaknya lupa bahwa paparan baru ke Kesukaan kami miliki bersama. Saya sangat kagum pada dia, begitu cepat Ms Lis menetralisir emosi. Kami saling berpelukan setelah keheningan panjang sementara pakaian sama merapikan kusut.

Ketika film berakhir dan lampu telah menyala bioskop, kami saling memandang seolah-olah ia tidak percaya apa yang telah dilakukannya. Segera kami berdiri dan siap untuk meninggalkan teater, sampai kemudian Ms Lis menahanku dan menatapku geli.

“Kau suka mengompol ..” katanya, tertawa dan menunjuk celana. Dengan rasa penasaran saya melihat ke bawah dan ketika dia menyadari apa yang ditunjuk oleh Ms Lis, aku tersenyum kecut geli dan malu terus. Ternyata semburan sperma begitu kuat sehingga tidak ada nyasar keluar dan meninggalkan tempat basah di celana saya.

“Mbak sih .. sudah ah, tidak perlu dibahas”, kataku Ms Lis mencubit pinggang dan mendorong perlahan keluar bioskop.
“Mbak antara kamu mengembalikannya?” Ibu Lis mengatakan ketika kami sampai di luar bioskop.
“Aku tidak butuh ya, saya ingin langsung ke kantor saja”, jawab saya.
“Kemudian Mbak antara kamu menjadi kantor, please ..” mendesak Ms Lis. Aku tidak bisa menahan dan hanya mengangguk, Ms Lis kemudian menyerahkan kunci mobil dan mengatakan kepada saya untuk mengendarai mobil.

Di dalam mobil kami tidak banyak bicara, seakan terlarut dalam perasaan masing-masing. Ibu Lis menyandarkan kepala di bahu saya, memeluk dan membelai lenganku. Tidak merasa kita telah memasuki halaman gedung kantor. Sebelum saya meninggalkan mobil, Ms Lis kembali mesra mencium bibirku.

“Maaf Bayu, jangan menyerah ya?” Ms Lis mengatakan, membelai pipiku.
“Apa yang sembuh?” Saya menjawab dengan mengedipkan mata dan perlahan-lahan keluar dari mobil.
“Kamu nakal ..” kata Ms Lis mencubit lenganku.
“Malam ini temanin ya Mbak?” Ibu Lis menghubungkan menarik baju saya dan kami kembali ke berciuman di jendela mobil.

Itulah kisah perkenalan saya dengan Ms Lis yang juga merupakan awal dari urusan saya dengan dia yang kemudian berlangsung panas lebih menarik dan lebih.

END

Incoming search terms:

  • cerita janda kesepian 2016
  • cerita sex janda
  • cerita sex linda
  • janda kesepian 2016
  • Cerita Ngentot janda kesepian
  • Cerita Ngentot dengan linda
  • cerita seks linda
  • cerita sex mbak linda
  • Cerita Dewasa janda kesepian bagian 1
  • gambar dan pengakuan janda kesepian

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *